Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Hubungi Kami
Jumat, 06 November 2026

HARI KESAKTIAN PANCASILA: LEBIH DARI SEKADAR SEREMONIAL
Oleh Admin | Kamis, 01 Oktober 2026
Bagikan :

Oleh : Amaral Devi Pratama, S.H.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober kerap diwarnai upacara di berbagai instansi pemerintah. Sayangnya, tidak sedikit pihak yang merasa paling Pancasilais, padahal perilaku dan ucapannya bertentangan dengan nilai ideologi tersebut. Alhasil, Pancasila hanya menjadi pemanis bibir serta ajang jualan politik dan pencitraan.

Peringatan ini berkaitan erat dengan perjalanan sejarah Indonesia, khususnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan berbagai perkembangan politik serta keamanan yang mengikutinya. Dalam perkembangannya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Peringatan tersebut mengandung pesan bahwa persatuan nasional harus senantiasa dijaga dan bahwa bangsa Indonesia harus memiliki keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bernegara. 

Memahami Hari Kesaktian Pancasila tidak cukup hanya dengan mengenang suatu peristiwa sejarah. Makna yang lebih penting adalah bagaimana generasi saat ini mengambil pelajaran dari sejarah untuk membangun masa depan Indonesia. Kesaktian Pancasila harus diwujudkan melalui kemampuan bangsa untuk tetap bersatu dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan. Pancasila harus menjadi pedoman dalam menyelesaikan perbedaan melalui dialog, musyawarah, penghormatan terhadap hukum, dan kepentingan bersama. Dengan demikian, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi momentum refleksi nasional bahwa persatuan Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh warga negara. Merujuk berbagai sumber dan perkembangan yang terjadi di masyarakat terdapat beberapa catatan yang perlu kita renungi dalam peringatan hari kesaktian Pancasila.

Pertama, Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa. Indonesia dibangun di atas keberagaman. Masyarakat Indonesia memiliki latar belakang suku, agama, budaya, bahasa, adat istiadat, serta kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda-beda. Dalam kondisi tersebut, bangsa Indonesia membutuhkan nilai bersama yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Pancasila menjadi salah satu fondasi utama yang menyatukan keberagaman tersebut dalam lima sila yaitu sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan kehidupan beragama sekaligus mendorong penghormatan terhadap kebebasan menjalankan agama dan kepercayaan sesuai dengan ketentuan hukum, Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap manusia harus diperlakukan secara bermartabat. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan diskriminasi, kekerasan, atau tindakan yang merendahkan manusia, Sila ketiga, Persatuan Indonesia, secara langsung menegaskan pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi tidak boleh menghilangkan kesadaran sebagai satu bangsa Indonesia, Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, memberikan prinsip bahwa kehidupan bersama harus dijalankan melalui mekanisme demokratis, musyawarah, dan penghormatan terhadap proses pengambilan keputusan yang sah serta Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan pentingnya menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan memberikan kesempatan bagi setiap warga negara untuk memperoleh kesejahteraan. Kelima sila tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan nilai. Pancasila menjadi pemersatu karena memberikan dasar bersama bagi masyarakat Indonesia untuk hidup berdampingan dan membangun masa depan secara bersama-sama.

Kedua, Pancasila dalam Menghadapi Tantangan Era Modern. Perkembangan teknologi informasi telah memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, komunikasi menjadi semakin mudah, dan masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan. Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan. Media sosial, misalnya, dapat menjadi ruang penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, provokasi, diskriminasi, dan berbagai informasi yang dapat memicu konflik sosial. Dalam kondisi tersebut, nilai-nilai Pancasila menjadi semakin penting. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya. Semangat persatuan juga harus dijaga dalam menghadapi perbedaan pandangan. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokratis. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Pancasila mengajarkan bahwa kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengembangkan budaya dialog, toleransi, gotong royong, dan musyawarah.

Ketiga, Implementasi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari. Pancasila akan memiliki makna apabila nilai-nilainya diterapkan dalam kehidupan nyata. Pengamalan Pancasila dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat, hingga kehidupan bernegara. Dalam lingkungan keluarga, nilai Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, membantu anggota keluarga, menyelesaikan permasalahan melalui komunikasi dan musyawarah, serta memberikan perhatian kepada anggota keluarga yang membutuhkan. Dalam lingkungan masyarakat, nilai Pancasila dapat diwujudkan melalui gotong royong, toleransi, kepedulian terhadap sesama, menghormati perbedaan, menjaga keamanan lingkungan, serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Dalam lingkungan kerja, Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap profesional, jujur, bertanggung jawab, menghargai rekan kerja, tidak melakukan diskriminasi, serta mengutamakan kepentingan organisasi dan masyarakat. Sementara dalam kehidupan bernegara, pengamalan Pancasila dapat diwujudkan dengan menaati hukum, menghormati lembaga negara, menggunakan hak dan kewajiban secara bertanggung jawab, menjaga persatuan, serta ikut berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Dengan demikian, pengamalan Pancasila bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh warga negara berupa dengan harapan Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Terwujudnya Keadilan Sosial dan Terwujudnya Kemakmuran Bangsa. Di sisi lain penting sekali bagaimana Peran Generasi Muda dalam Memperkuat Pancasila. Di era digital, generasi muda memiliki akses yang sangat luas terhadap informasi. Kondisi ini dapat menjadi kekuatan apabila digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan produktivitas. Namun, generasi muda juga perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai pengaruh negatif. 

Dengan demikian di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, Pancasila memiliki peran penting sebagai pemersatu bangsa karena mengandung nilai-nilai yang menjadi pedoman bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan bangsa serta memperkuat komitmen dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Pengamalan Pancasila harus dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati perbedaan, membantu sesama, menjaga persatuan, menaati hukum, bermusyawarah, bergotong royong, bersikap jujur, dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila. Kesaktian Pancasila tidak hanya tercermin dalam sejarah, tetapi juga dalam kemampuan bangsa Indonesia untuk mempertahankan persatuan, menghadapi perubahan zaman, dan bersama-sama membangun masa depan Indonesia. Saatnya Pancasila benar-benar sebagai pemersatu bangsa. Selamat memperingati hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026.

Infografis Kejaksaan

Tweeter Kejaksaan

Instagram Kejaksaan

Polling